Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

TIFA CENDERAWASIH NEWS

DIPERCAYA DARI YANG TERPERCAYA

Lomba Bertutur Cerita Rakyat Papua Tengah Digelar, Upaya Nyata Lestarikan Budaya Generasi Muda

admin |

Tifacenderawasihnews. Com

Nabire, Papua Tengah | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah menggelar Lomba Bertutur Cerita Rakyat sebagai upaya menggali, melestarikan, dan mempopulerkan cerita rakyat yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Sabtu (25/04/2026)

Kegiatan ini mengusung tema “Melestarikan Budaya melalui Tutur Cerita Rakyat Papua Tengah” dan menjadi wadah bagi generasi muda untuk mencintai seni, budaya, serta sastra daerah.

Ketua panitia, Lukas Pigome, S.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal agar tetap terjaga dan diwariskan kepada masa depan.

Kami berharap melalui lomba ini, generasi muda Papua Tengah dapat semakin memahami, mencintai, dan melestarikan budaya daerahnya sendiri. Cerita rakyat bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan nilai dan identitas budaya yang harus dijaga,” ujar Lukas Pigome.

Lomba ini diikuti oleh pelajar aktif tingkat SMA/SMK/sederajat dari berbagai kabupaten di Papua Tengah. Pada pelaksanaan kali ini, peserta berasal dari empat sekolah, yakni dua peserta dari Sekolah Adi Luhur Kabupaten Nabire, satu peserta dari Sekolah KPG Kabupaten Nabire, satu peserta dari Kabupaten Mimika, serta satu peserta dari SMA Katolik Aweida, Kabupaten Deiyai.

Setiap peserta diwajibkan menampilkan kemampuan bertutur cerita rakyat dalam bentuk video berdurasi maksimal 20 menit. Meski tidak ditentukan durasi minimum, panitia menyarankan agar video tidak kurang dari 15 menit agar isi cerita dapat tersampaikan dengan baik.

Konten video harus berisi kegiatan mendongeng atau menceritakan cerita rakyat asli dari wilayah Papua Tengah, baik berupa legenda, mite, maupun dongeng yang mengandung pesan moral serta nilai budaya setempat. Rekaman video juga harus memiliki kualitas gambar dan suara yang jelas dengan resolusi minimal 720p.

Peserta diperbolehkan menggunakan alat peraga, properti, maupun latar tempat yang mendukung jalannya cerita, namun tidak diperkenankan menggunakan efek editing berlebihan yang dapat mengurangi esensi utama bertutur.

Penilaian dewan juri dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yaitu penghayatan dan ekspresi sebesar 25 persen, intonasi, artikulasi, dan vokal sebesar 25 persen, penguasaan cerita dan alur sebesar 20 persen, keaslian dan nilai budaya cerita sebesar 15 persen, serta kreativitas penyajian sebesar 15 persen.

Panitia juga menyiapkan hadiah bagi para pemenang, yakni Juara III sebesar Rp2.000.000, Juara II sebesar Rp3.000.000, dan Juara I sebesar Rp5.000.000. Seluruh peserta juga akan menerima sertifikat keikutsertaan resmi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah.

Selain itu, hak cipta karya tetap menjadi milik peserta, namun Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah berhak mempublikasikan dan menayangkan video karya peserta untuk kepentingan pendidikan, promosi budaya, serta publikasi non-komersial lainnya dengan tetap mencantumkan nama peserta dan asal daerahnya.

Panitia menegaskan bahwa keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Melalui kegiatan ini, diharapkan cerita rakyat Papua Tengah tetap hidup dan menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda yang mencintai akar budayanya sendiri.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini