Perempuan Nusantara Papua Tengah Perkuat Semangat Pancasila Melalui Ruang Dialog Kebangsaan
Tifacenderawasihnews. Com
Nabire, Papua Tengah | Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah menggelar diskusi publik bertema “Perempuan Papua Tengah Mengamalkan Pancasila, Menjaga Indonesia dalam Keberagaman” yang berlangsung di Aula RRI Nabire, Senin (01/06/2026) pukul 10.00 WIT.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen perempuan, tokoh masyarakat, akademisi, dan peserta dari berbagai latar belakang suku, agama, serta budaya. Asisten III Administrasi Umum Victor Fun, S. Sos. M. Si. PerwakilanKodim Kapten Inf. AgusPramono.

Hadir mendampingi Ketua Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah, Adriana Sahempa, yakni Ketua Aliansi Perempuan Nabire Oktovina Woromboni, S.Sos, Penasehat Yufinia Mote, Pembina Mada Makdalena Aronggear, Maya Yakadewa, S.Sos., M.AP, Saloce Yumame, S.Pd, Pengurus Kristin Konyora Oluah, serta Ketua Perkumpulan Wanita Wirausaha Indonesia (PERWIRA) Beatrix A. Manggo, S.Sos., M.Si., M.Div., M.Pd.

Saat diwawancarai usai kegiatan, Adriana Sahempa menjelaskan bahwa diskusi publik tersebut diselenggarakan sebagai upaya menghidupkan kembali semangat pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di tengah masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan keluarga, mulai dari pendidikan anak hingga pembentukan karakter dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Kami merasa penting untuk terus menyuarakan nilai-nilai Pancasila secara berulang dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang beragam, sehingga nilai toleransi, persatuan, dan gotong royong harus terus ditanamkan sejak dini,” ujarnya.
Ia menilai bahwa perkembangan zaman dan berbagai pengaruh dari luar telah menyebabkan sebagian nilai luhur Pancasila mulai mengalami pengikisan. Karena itu, melalui forum diskusi tersebut, pihaknya ingin memperoleh berbagai masukan dan gagasan dari peserta mengenai langkah-langkah konkret dalam menjaga dan mengamalkan Pancasila di tengah keberagaman agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat yang ada di Papua Tengah.
Dari hasil diskusi, sejumlah rekomendasi berhasil dirumuskan untuk disampaikan kepada pihak terkait. Salah satunya adalah perlunya penguatan pendidikan karakter dan moral berbasis nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan.
“Kami berharap pendidikan moral Pancasila dapat semakin diperkuat dalam kurikulum, sehingga generasi muda memiliki pemahaman yang baik tentang nilai-nilai kebangsaan serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Adriana juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan antarperempuan di Papua Tengah tanpa memandang perbedaan suku, agama, bahasa, maupun budaya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah belah. Justru keberagaman adalah kekuatan dan keindahan yang harus dirawat bersama. Perempuan Papua Tengah harus saling mencintai, saling menguatkan, dan bergandengan tangan dalam mendukung pembangunan serta program pemerintah demi kemajuan daerah,” ungkapnya.
Sebagai bentuk apresiasi kepada peserta, panitia juga menyelenggarakan penilaian busana adat yang dikenakan peserta serta memberikan penghargaan kepada peserta yang aktif menyampaikan pendapat maupun pertanyaan selama diskusi berlangsung. Selain itu, para peserta juga menerima bingkisan sebagai bentuk perhatian dan penghargaan atas partisipasi mereka dalam kegiatan tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah turut menyampaikan keprihatinan terhadap berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan yang masih terjadi di Papua, termasuk dampak konflik yang menyebabkan perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang rentan terdampak.
Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan langkah-langkah nyata dan berkelanjutan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi, sehingga tercipta rasa aman dan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat, khususnya perempuan dan anak.
“Kami berharap hadirnya kebijakan dan langkah konkret yang mampu memberikan perlindungan kepada perempuan Papua. Harapan kami, tidak ada lagi perempuan dan anak yang menjadi korban dari berbagai persoalan yang terjadi di tanah Papua,” tutup Adriana Sahempa.
Melalui kegiatan tersebut, Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila, menjaga persatuan dalam keberagaman, serta memperjuangkan hak dan perlindungan perempuan di Papua Tengah.
(Red)

Tinggalkan Balasan