IWD 2026: Paola Pakage Serukan Darurat Kesehatan Ibu di Papua Tengah
Tifacenderawasihnews. Com
Nabire, Papua Tengah | Momentum peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) ke-116 di Nabire menjadi panggung seruan keprihatinan terhadap kondisi perempuan Papua Tengah. Tokoh perempuan dan pemerhati kesehatan Papua Tengah, Paola S. Pakage, menegaskan bahwa perempuan di daerah ini masih menghadapi ancaman serius di sektor kesehatan maupun ekonomi.

Seruan tersebut disampaikan Paola saat ditemui media dalam aksi bisu dan pembagian selebaran edukasi yang digelar pada Sabtu (7/3/2026) pukul 16.00–17.30 WIT di perempatan lampu merah SMP St. Antonius Nabire.

Aksi ini melibatkan gabungan sejumlah komunitas perempuan yang tergabung dalam Solidaritas Perempuan Papua Tengah (SPPT), di antaranya SUARA MARSINAH Papua Tengah, LPPAP, KEWITA, APAP, KLB, JDRP2, dan Gren Papua.
Dalam orasinya, Paola yang juga dikenal sebagai Relawan P4 HIV/AIDS, Ketua Koordinator SUARA MARSINAH Papua Tengah, dan Ketua LPPAP Papua Tengah memaparkan sejumlah data yang mengkhawatirkan. Menurutnya, angka kematian ibu di Papua Tengah masih berada pada level kritis, yakni 250 kasus per 100.000 kelahiran hidup, sementara angka kematian bayi mencapai 35 per 1.000 kelahiran hidup.
Kondisi tersebut, kata Paola, semakin diperparah dengan belum tersedianya stok darah yang memadai di rumah sakit serta tidak aktifnya Palang Merah Indonesia (PMI) di Papua Tengah.
“Sangat ironis ketika kita berbicara tentang kemajuan daerah, tetapi ibu-ibu kita masih harus mempertaruhkan nyawa saat melahirkan karena ketiadaan darah. Kami mendesak pemerintah provinsi maupun kabupaten segera mengaktifkan kembali PMI. Ini adalah kewajiban negara untuk menyelamatkan nyawa perempuan,” tegas Paola.
Selain persoalan kesehatan ibu, Paola juga menyoroti meningkatnya kasus HIV/AIDS di Papua Tengah. Hingga Maret 2026, jumlah kumulatif kasus tercatat telah melampaui 12.000 kasus, dengan perempuan menjadi kelompok yang semakin rentan terpapar.
Ia menilai stigma sosial dan diskriminasi masih menjadi penghalang bagi banyak perempuan untuk mengakses layanan kesehatan. Kondisi ini semakin berat bagi perempuan di wilayah konflik maupun pekerja perkebunan sawit yang sering kali tidak mendapatkan fasilitas kesehatan dasar, termasuk ketersediaan P3K di lingkungan kerja.
Tak hanya itu, Paola juga mengangkat persoalan ekonomi perempuan asli Papua, khususnya mama-mama pedagang pasar. Ia mengapresiasi keteguhan mereka yang tetap menjual hasil pangan lokal meski harus menghadapi panas dan hujan setiap hari.
Namun, menurutnya, pendapatan mereka kini terus menurun akibat menjamurnya lapak-lapak sayur liar di berbagai sudut kota tanpa regulasi yang jelas.
“Jika tidak ada kebijakan yang melindungi mama-mama pedagang pasar, ekonomi mandiri perempuan Papua perlahan akan mati,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Paola juga mengingatkan publik bahwa perempuan Papua Tengah telah membuktikan kapasitas kepemimpinan mereka dalam pembangunan daerah.
Ia mencontohkan sosok Dr. Ribka Haluk, S.Sos., MM, yang pernah menjabat sebagai Penjabat Gubernur pertama Papua Tengah dan meletakkan fondasi awal pemerintahan provinsi ini. Selain itu, terdapat pula tokoh perempuan lain seperti Jennifer Darling Tabuni, S.E selaku Ketua KPU Papua Tengah, Denci Meri Nawipa, S.IP sebagai Penjabat Bupati Paniai, serta Dr. Martha Pigome, SH., M.Hum sebagai Penjabat Bupati Mimika.
“Perempuan Papua Tengah telah membuktikan mampu memimpin dengan tanggung jawab besar. Namun masih banyak perempuan hebat yang belum mendapat ruang dan kesempatan yang setara,” tutup Paola.
(Red)

Tinggalkan Balasan