Solidaritas Lintas Suku Menguat di Balik Duka Kecelakaan Warga Batak di Nabire
Tifacenderawasihnews. Com
Nabire, Papua Tengah | Tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa Suhenda Nasution, seorang warga Batak di Nabire, menjadi duka mendalam sekaligus pengingat penting bagi komunitas perantau agar lebih peduli, terdata, dan aktif dalam organisasi kerukunan. Minggu (1/3/2026)

Peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan kesedihan bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga memunculkan refleksi bersama tentang pentingnya kebersamaan dan solidaritas di tanah rantau.

Banyak perantau yang telah bertahun-tahun menetap di suatu daerah, namun belum terdata secara resmi atau belum terlibat aktif dalam paguyuban. Kondisi ini kerap menyulitkan koordinasi ketika musibah datang.
Ketua Perkumpulan Keluarga Batak Nabire (PKBN), Jannes Siadari, bersama Kepala Suku MAJAPAHIT (Madura Jawa Pasundan Papua Tengah Inovatif Toleran), Agus Suprayitno, S.Sos., M.H., melakukan pertemuan dan koordinasi terkait penanganan jenazah almarhum. Proses penyerahan dan pemulasaran jenazah dilakukan secara bersama dengan penuh tanggung jawab dan rasa kemanusiaan.
Dalam keterangannya, Agus Suprayitno menegaskan bahwa MAJAPAHIT hadir untuk membantu tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.
Ia menyampaikan bahwa jika terdapat warga yang meninggal dunia dan tidak memiliki keluarga atau pihak yang mengurus, organisasinya siap membantu proses pemakaman sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan. Prosesi pemulasaran jenazah dipimpin oleh KH. Mukromin Al Hafidz, mulai dari memandikan hingga proses penguburan.
Turut hadir dalam prosesi tersebut unsur kepolisian dari Satuan Lalu Lintas, Ketua PKBN Jannes Siadari, Sekretaris MAJAPAHIT M. Thohir, S.Pd., M.M., serta Bendahara II MAJAPAHIT Pariman, S.T. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan koordinasi lintas paguyuban dan institusi berjalan dengan baik.
Jenazah direncanakan dimakamkan di pemakaman Muslim Kampung Wadio. Namun, keterbatasan lahan makam di wilayah kota kembali menjadi perhatian.
Ketersediaan lahan pemakaman dinilai semakin terbatas dan belum memiliki solusi jangka panjang. Hal ini menjadi catatan penting bagi paguyuban dan kerukunan perantau untuk mulai memikirkan pengadaan atau pengelolaan lahan pemakaman secara mandiri dan terencana.
Selain itu, peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pengelola makam agar tetap mengedepankan kepekaan sosial dan pelayanan kemanusiaan. Proses administrasi yang diperlukan hendaknya tidak mengabaikan aspek empati terhadap keluarga yang sedang berduka.
Tragedi ini sekaligus menegaskan bahwa keberadaan paguyuban bukan sekadar formalitas atau wadah kegiatan seremonial. Organisasi kerukunan berfungsi sebagai sistem pendataan, koordinasi, serta kesiapsiagaan saat anggota menghadapi musibah. Partisipasi aktif anggota dinilai sangat penting agar solidaritas dapat berjalan efektif.
Kerja sama lintas suku yang terjalin antara PKBN dan MAJAPAHIT menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan mampu melampaui perbedaan identitas.
Solidaritas tersebut menjadi contoh bahwa kebersamaan dan komunikasi yang baik dapat membantu menyelesaikan persoalan secara kolektif. Peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran bersama bagi seluruh perantau di Nabire dan Papua Tengah.
Menjadi perantau bukan hanya tentang mencari penghidupan, tetapi juga tentang membangun jaringan sosial yang kuat, peduli terhadap sesama, serta memiliki sistem yang jelas dalam menghadapi situasi darurat, termasuk urusan pemakaman.
(Red)

Tinggalkan Balasan