Tekan Inflasi, Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire Siapkan Langkah Strategis Menjelang Ramadhan 2026
Tifacenderawasihnews. Com
TCNews||Nabire, PapuaTengah|Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire yang berada di Jl. Jenderal Sudirman Kelurahan Karang Tumaritis, dalam keterangannya ke awak media, Ibu Kadis drh. I Dewa Ayu Dwita K.M., menyampaikan langkah-langkah strategis pemerintah daerah dalam menyikapi kenaikan harga daging serta menjamin ketersediaan dan keamanan pangan menjelang Idulfitri 2026.

Hal tersebut disampaikan saat wawancara di ruang kerjanya pada Jumat, 23 Januari 2026, pukul 11.30 WIT.
Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa populasi sapi potong di Kabupaten Nabire saat ini mengalami penurunan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan daging sapi di daerah.
Oleh karena itu, pemerintah daerah menyiapkan opsi pemasokan ternak sapi hidup maupun daging sapi dari luar daerah sebagai langkah antisipatif.
“Untuk menjamin stok daging menjelang Idulfitri, kami merekomendasikan pemasokan sapi potong hidup dari daerah yang dinyatakan bebas penyakit, baik dari dalam Papua maupun luar Papua,” ujarnya.

Daerah yang direkomendasikan antara lain Merauke dan Manokwari untuk wilayah Papua, serta Ternate , Bali dan Nusa Tenggara Timur untuk luar Papua. Selain itu, pemasokan daging sapi beku dari Australia juga dimungkinkan, dengan ketentuan ketat sesuai regulasi kesehatan hewan.
Ia menegaskan bahwa seluruh pemasokan ternak dan produk daging wajib memenuhi persyaratan teknis, termasuk uji laboratorium yang menyatakan bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta brucellosis.
Pengujian harus dilakukan di laboratorium veteriner terakreditasi sesuai wilayah asal ternak. Selain itu, pelaku usaha diwajibkan melengkapi dokumen perizinan berupa rekomendasi pengeluaran dari daerah asal dan rekomendasi pemasokan di daerah tujuan.
“Papua merupakan wilayah bebas penyakit hewan menular tertentu, sehingga kami sangat ketat dalam pengawasan. Daging atau ternak yang masuk harus dipastikan sehat dan aman,” tegasnya.
Terkait daging babi, Kepala Dinas menjelaskan bahwa Nabire masih berada pada fase pemulihan pascawabah African Swine Fever (ASF).
Untuk menekan inflasi dan menjamin keamanan pangan, pihaknya melakukan analisis risiko sebelum mendatangkan daging babi dari daerah luar yang dinilai aman dan memiliki standar pemotongan bersertifikat, seperti Bali. Langkah ini diambil guna memastikan daging yang masuk tidak memicu kembali wabah ASF di Nabire.
Selain Bali, pemasokan daging babi juga dilakukan dari sejumlah wilayah yang dinyatakan bebas penyakit di Papua, seperti Sarmi, Biak, dan Manokwari, dengan pengawasan serta sertifikasi kesehatan yang ketat.
“Harapan kami, populasi ternak babi lokal di Nabire dapat segera pulih dan meningkat. Jika sudah stabil, pemasokan daging dari luar daerah akan dihentikan dan kita sepenuhnya mengandalkan produksi lokal,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Nabire berkomitmen menjaga stabilitas harga, ketersediaan stok, serta keamanan pangan, khususnya menjelang hari besar keagamaan, melalui pengawasan terpadu dan penerapan standar kesehatan hewan yang ketat.
( RED )

Tinggalkan Balasan