Tekan Inflasi, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire Siapkan Langkah Strategis Menjelang Ramadhan 2026
Tifacenderawasihnews. Com
TCNews||Nabire, PapuaTengah|Menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengendalikan harga dan menjaga ketersediaan pangan, khususnya komoditas strategis seperti daging sapi dan daging babi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire, Yasor Victor, saat diwawancarai awak media di ruang kerjanya pada Kamis, 22 Januari 2026, sekitar pukul 17.30 WIT.
Yasor menjelaskan, harga daging sapi di Kabupaten Nabire saat ini masih bertahan di angka Rp200.000 per kilogram. Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan sebelum perayaan Natal dan Tahun Baru yang berada di kisaran Rp180.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini dipicu oleh keterbatasan produksi lokal yang tidak sebanding dengan tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Produksi daging sapi lokal kita sangat terbatas. Rata-rata pemotongan hanya delapan ekor sapi per hari dengan hasil sekitar 600 kilogram daging, sementara kebutuhan masyarakat cukup tinggi, terutama menjelang hari besar keagamaan,” ujar Yasor.
Ia menambahkan, sebagian besar pasokan daging sapi di Nabire diserap oleh pelaku usaha makanan dan minuman, seperti warung makan, pedagang bakso, serta pelaku UMKM kuliner.
Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan harga selama bulan Ramadhan, seiring meningkatnya permintaan masyarakat.
Berdasarkan hasil pemantauan harga pasca Natal dan Tahun Baru yang dilakukan pada 13 Januari 2026, sejumlah komoditas pangan lain juga mengalami kenaikan harga signifikan, di antaranya telur ayam ras, daging babi, ikan, dan cabai rawit. Meski demikian, harga cabai rawit lokal mulai menunjukkan tren penurunan.
Dari sempat mencapai Rp200.000 per kilogram, kini harga cabai rawit di Pasar Kalibobo dan Pasar Bumi Raya SP 1 berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga selama Ramadhan hingga Idul Fitri, Dinas Ketahanan Pangan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Nabire telah menggelar rapat koordinasi pada 21 Januari 2026.
Dari hasil rapat tersebut, pemerintah daerah memproyeksikan kebutuhan daging sapi selama Februari hingga Maret 2026 mencapai 36 hingga 40,5 ton.
“Jika hanya mengandalkan produksi lokal, jelas tidak mencukupi. Karena itu, kami merekomendasikan pemasokan sapi hidup dari daerah lain,” kata Yasor.
Pemasokan sapi hidup direncanakan berasal dari sejumlah wilayah yang direkomendasikan Kementerian Pertanian, seperti Merauke, Manokwari, Sorong, serta daerah di luar Papua, yakni Ternate dan Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong masuknya daging sapi beku melalui pelaku usaha yang telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Nabire.
Langkah serupa juga diterapkan untuk komoditas daging babi yang memiliki tingkat konsumsi tinggi dan turut menyumbang inflasi daerah.
Pemerintah daerah merekomendasikan pemasokan daging babi dari luar daerah, khususnya Bali, dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis serta kesehatan hewan.
Berdasarkan data year-on-year, inflasi Kabupaten Nabire tercatat mencapai 5,81 persen dan menempatkan daerah ini dalam jajaran 10 wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia. Komoditas pangan menjadi salah satu penyumbang utama angka inflasi tersebut.
Selain memperkuat pasokan, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire juga menyiapkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang Idul Fitri, termasuk GPM mandiri melalui kios pangan milik dinas. Program ini diharapkan mampu menekan harga pangan dan menjaga daya beli masyarakat.
“Kami ingin memastikan masyarakat, khususnya umat Muslim di Nabire, dapat menjalankan ibadah Ramadhan dan merayakan Idul Fitri dengan tenang tanpa dibebani lonjakan harga pangan,” tutup Yasor Victor.
( RED )

Tinggalkan Balasan