Wabah ASF Tekan Stok dan Dongkrak Harga Babi di Papua Tengah, Pemuda Soroti Perlunya Langkah Pemulihan Serius
Tifacenderawasihnews. Com
TCNews || Nabire, Papua Tengah | Wabah African Swine Fever (ASF) yang melanda wilayah Papua Tengah sejak Oktober 2024 memberikan dampak serius terhadap keberlangsungan peternakan babi di sejumlah daerah, khususnya di Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, serta wilayah pegunungan lainnya seperti Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya.
Pemuda Papua Tengah, Andrias Gobai, S.Sos., MA, menyampaikan bahwa wabah ASF telah menyebabkan kematian babi dalam jumlah besar, baik babi lokal maupun ternak babi peliharaan skala rumah tangga. Kondisi tersebut secara langsung menurunkan populasi ternak babi dan berimbas pada ketersediaan stok di pasaran.
“Menjelang dan selama perayaan Natal 2025, stok babi mengalami penurunan yang sangat signifikan. Masyarakat terpaksa mendatangkan babi dari luar daerah, yang kemudian berdampak pada melonjaknya harga babi di pasaran,” ujar Andrias Gobai.
Ia menegaskan, bagi masyarakat Papua, babi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial, budaya, dan adat yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kenaikan harga babi secara nyata memberatkan masyarakat, khususnya dalam pelaksanaan kegiatan adat dan keagamaan.
Lebih lanjut, Andrias mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi semakin memburuk apabila tidak segera direspons dengan langkah-langkah konkret dan terencana. Berdasarkan hasil diskusinya dengan salah satu peternak babi di wilayah Kimi, pemulihan populasi babi pasca-wabah ASF diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu singkat tanpa adanya intervensi serius dari berbagai pihak.
“Para peternak memperkirakan, tanpa upaya pemulihan yang nyata, krisis stok babi ini bisa berlangsung hingga tiga sampai empat tahun ke depan,” jelasnya.
Untuk itu, Andrias Gobai mendorong adanya upaya bersama yang terkoordinasi dan berkelanjutan antara pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, peternak, serta lembaga terkait guna memulihkan populasi babi, khususnya babi lokal.
Beberapa langkah strategis yang dinilai perlu segera dilakukan antara lain: Pelaksanaan program pemulihan dan pengembangan peternakan babi pasca-wabah ASF.
Penyediaan bibit babi yang sehat dan terkontrol. Penyediaan ternak babi betina dalam jumlah memadai. Pendampingan teknis dan pelayanan kesehatan hewan bagi peternak lokal.
Penguatan sistem biosekuriti untuk mencegah wabah berulang. Penguatan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, peternak, dan lembaga terkait.
“Dengan langkah-langkah konkret tersebut, diharapkan stok babi di Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai dapat kembali terpenuhi, harga babi menjadi stabil, serta keberlanjutan ekonomi dan nilai budaya masyarakat Papua tetap terjaga,” pungkas Andrias Gobai.
( RED )

Tinggalkan Balasan