Kapolda Papua Tengah Hadiri Perayaan 1 Abad Nubuatan I.S. Kijne di Teluk Wondama
Tifacenderawasihnews. Com
TCNews || TELUK WONDAMA | Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Alfred Papare, S.I.K., menghadiri puncak perayaan 1 Abad Nubuatan Izaak Samuel Kijne (I.S.K.) bertema “Tanah Peradaban Orang Papua” yang digelar di Lapangan Aitumieri, Miei, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, pada Sabtu (25/10/2025).

Perayaan akbar tersebut menjadi momentum bersejarah yang dihadiri oleh ribuan jemaat dari berbagai denominasi gereja di seluruh Tanah Papua. Hadir pula Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, para tokoh lintas gereja, pimpinan daerah provinsi dan kabupaten se-Tanah Papua, unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu kehormatan lainnya.

Kemeriahan acara ditandai dengan tarian adat dari tujuh wilayah adat Papua, diikuti pelepasan burung merpati dan balon ke udara sebagai simbol perdamaian dan sukacita iman. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi bentuk ungkapan syukur dan penghormatan atas karya besar Dominee Izaak Samuel Kijne (1899–1970), seorang pendeta, misionaris, sekaligus pendidik asal Belanda yang meletakkan dasar kesadaran, pendidikan, dan peradaban bagi masyarakat Papua.

Dalam momentum itu, pesan nubuatan I.S. Kijne yang disampaikan seabad lalu di Wasior kembali menggema dan menggetarkan hati jemaat:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan ma’rifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
(Wasior, 25 Oktober 1925)
Kutipan lainnya yang tak kalah mendalam turut menjadi pedoman moral masyarakat Papua hingga kini:
“Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” (Pdt. I.S. Kijne, 1947)
Dalam kesempatan itu, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Alfred Papare menyampaikan refleksi dan apresiasinya terhadap makna peringatan 1 abad nubuatan tersebut. Ia menegaskan, warisan iman, kasih, dan nilai persaudaraan yang diajarkan I.S. Kijne harus terus dihidupi oleh masyarakat Papua dari generasi ke generasi.
“Kita harus terus memperkuat persatuan, menghindari perpecahan, serta bergandengan tangan untuk menjaga Tanah Papua sebagai rumah bersama yang aman, harmonis, dan sejahtera,” ujar Kapolda.
Ia menambahkan, semangat dan pengajaran I.S. Kijne menjadi pengingat bagi generasi Papua untuk membangun masa depan yang berlandaskan iman, pendidikan, dan kasih terhadap sesama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan fondasi utama menuju kemajuan dan kesejahteraan berkelanjutan di Tanah Papua.
Perayaan 1 Abad Nubuatan I.S. Kijne ini tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga momen spiritual dan refleksi sejarah yang mempererat persaudaraan umat Kristen di seluruh Papua. Ribuan jemaat memenuhi Lapangan Aitumieri, menaikkan doa dan pujian syukur atas karya Tuhan melalui kehidupan dan pengajaran Dominee Kijne yang telah memberi arah bagi perjalanan iman dan peradaban Papua.
Acara puncak ditutup dengan ibadah bersama serta peletakan batu pertama pembangunan Monumen Salib Agung dan Perguruan Tinggi Dominee I.S. Kijne di Teluk Wondama — sebuah simbol bahwa warisan iman, ilmu, dan pengabdian Kijne akan terus hidup dalam kehidupan masyarakat Papua, kini dan di masa mendatang.
( RED )

Tinggalkan Balasan